ketika mengenanngmu
kemudian berjuta kata berjatuhan
seperti langit yang berbisik lewat gerimis
membentuk seikat pelangi di penghujung hari
tak kuasa aku menahan
ketika lajunya membentuk bait-bait
hingga fakirku untuk menterjemahkannya
menjadi secarik puisi untuk dapat kau baca
maka...
pejamkan saja mata indahmu itu
hingga kau akan mendengarkannya sendiri
kecamuk rindu ini yang tiada henti mengalun
dalam hatiku, dalam rasaku.
dan itulah sekuntum rindu untukmu
yang wanginya tiada mampu aku gambarkan
bahkan oleh secawan kasturi, ataupun setaman melati
lihat, dengar dan rasakan.

No comments:
Post a Comment